31 Juli 2008

Intermezo


Kau bilang bahagia karna ku
Sejak melati merekah diketiak daun
Dan embun simpan cerita cinta kita
Dengan bening dapat ku intip senyummu

Lalu apa arti aku bagimu?
Jika dibelakang kau memuja mentari
Muaikan hadirku di pelepah senyumnya
Dengan teriknya kau semangati hidupmu
Dengan parasnya kau kiblatkan hatimu

Lalu apa arti ku bagimu?
Embun pagi yang kau minta singgah
Kala kau dirajah jengah
Ah intermezzo…

Maniz, 31 Juli 2008

Epilog


Salam tlah terhatur
Pamit tlah tertutur
Tikar tergulung
Pintu kembali ditutup

Selamat tinggal…



Maniz, 31 Juli 2008

Nada Akhir


Nada jiwa mulai ku mainkan
Dawaikan gita tanpa senar bergetar
Hanya kau dan aku bersymponi
Lirih sentuh not not kehidupan berharmoni

Lalu nyanyianmu terdengar sumbang
Saat jiwamu terlanda bimbang
Pada nada akhir yang kau ingin indah
Pada rasamu yang kian tergubah

Kenapa tak kau iringi rayuan nada ini
Hingga lupa lara yang mengikat kakimu
Kenapa tak kau gemulaikan jasadmu
Menari dengan jiwamu yang berkidung
Bercengkrama lepas bebas tak terbendung

Ikuti saja alur nadanya
Resapi gita-gita itu bermutasi
Hingga kan kau temukan
Nada akhirmu memeluk intonasi

Maniz, 30 Juli 2008

29 Juli 2008

Semangkok Sup dan Sebuah Nama


Pagi itu seperti biasanya kita bercengkrama di meja makan berdua sambil menikmati luruhnya embuh disapu Sang Surya… semangkuk sup jagung manis dan asparagus tersaji hangat di meja di hiasi kepulan teh kayu manis mencoba mengusir kantuk yang menggantung dikedua kelopak mataku.

“ Pagi non, masih ngantuk ? “ ucap Tiar menyalamiku dengan seulas senyum khasnya, senyum lebar yang memamerkan kedua giginya yang besar berkilat kilat…

“ Pagi sayang…. “ ucapku semangat..

“ Hem… rupanya Sang pangeran sudah membuatkan Sang puteri sup ya… wah.. pasti enak…” timpalku sambil duduk disalah satu kursi makan yang empuk itu

“ Yah biasanya juga begitu… semangkok sup untuk menyambut dunia“ jawab Tiar dengan senyum terkulum, jujur kalau dia senyum begitu terlihat lebih manis pikirku…

Parade pagi pun bergulir, seperti biasa aku memberondongkan segala keluhku pada Tiar.. dari sakit kepala, rambut rontok, kaki pegel-pegel sampai jerawat. Tiar mendengarkan dengan santai tanpa ekspresi, baginya keluhku seperti nyanyian Indonesia Raya yang didengarnya di setiap upacara bendera kala SD, hafal betul bahkan mungkin Tiar tidurpun masih hafal diluar kepala. Dan tanpa perasaan akupun terus melanjutkan ceritaku yang tanpa titik koma itu…. Kata demi kata mengalir tanpa ada yang menggiring… ah aku memang talk active ( cerewet yang diperhalus).

Suap demi suap sup jagung manis dan asparagus singgah dibibirku…. Sup yang nikmat dan teh yang menenangkan… teracik dari sosok tangan yang sering lembut membelai rambutku.

“ Periksakanlah sakitmu ke dokter…. Siapa tau berbahaya… “ saran Tiar membuka mulut…

“ Iya deh nanti ..” kilahku seperti biasa yang takut pada suntik dokter

“ Lama-lama memang nama Marsambat cocok padamu… hahahaha “ Tiar tertawa lepas dengan senyum khasnya, senyum yang berkilat kilat..

“ Apa ?? Marsambat lagi..?? Enggak.. !!! jawabku sewot..

“ Lah kok sewot, kan cocok sama pribadi kamu yang suka berkeluh kesah (sambat=berkeluh kesah).. hahahaha..”

Aku hanya manyun, sedikit tak terima dengan nama yang sering dia ucapkan itu.. namun kulihat Tiar sangat semangat dengan penemuan nama yang sering membuatnya tertawa… menghilangkan garis mata di bulu-bulu matanya yang lentik.

Dan sejak saat itu, nama itu melekat pada diriku bahkan Tiar tidak pernah memanggil namaku .. katanya nama Marsambat adalah panggilan kesayangan.. Ah dasar Tiar…..desisku…

Semangkok sup dan sebuah nama adalah upacara di pagi buta saat kita mulai menyambut dunia dengan segenggam asa dan cinta….

Maniz, 28 Juli 2008

25 Juli 2008

Wanita Di Ufuk Senja


Batas malam mulai merambatimu
Pelan putihkan rambut dengan perjuangan
Guratkan garis halus pada sudut senyum
Kikis hitamnya bola mata dengan putihnya asa

Gemeretak gigi kala tubuh menggigil
Dibuai angin malam di sepanjang trotoar
Namun jasadmu menyatu dengan jiwa cinta
Setiap derita termuaikan semangatmu membara

Oh wanita di ufuk senja
Tiada letih kau torehkan jejak hidup
Tiada jengah kau bisikkan perjuangan
Tiada kesah kau hapus peluh keringat
Demi celoteh riang tunasmu yang menghijau

Oh wanita di ufuk senja
Bukan berlian tertawan di cawan tanganmu
Namun kasih tanpa pamrih
Melekat berkilat disela sela hatimu
Yang putih bersih ber aura Surga…

Wahai wanita di ufuk senja…
Bila nanti masa Nya
Perjuanganmu menepi digaris malam
Tidurlah di bantal bantal kedamaian
Yang terkirim dari tunasmu yang bersemi
Dari buah ranum yang kau tanam

Tersenyumlah…..

Maniz, 24 Juli 2008

24 Juli 2008

Terali...


Terhimpit aku disudut lorong gelap
Tertekuk asaku oleh jeruji besi ini
Yang menghukumku di tiap ujung ujung hariku
Lumatkan cintaku halus terhembus angin

Tangguh batas ini berdiri
Memisahkanku dengan dunia ceritamu
Jauhkanku dari wewangian dadamu yang bidang
Dekatkanku dengan kegelapan tak berpurnama

Terali….
Kungkungkan aku di nestapa ini
Pasungkan aku dengan janji berduri
Bungkam jeritan dengan kasunyatan
Redupkan harapan di lautan cobaan

Terali..
Bila esok terbuka
Bisakah kulihat dunia
Tak memeluk gerhana….


Maniz, 23 Juli 2008

22 Juli 2008

Kuda Liar...


Berlari bebas kau mengawali hidup
Tanpa beban yang mengekangmu terpuruk
Dengan kandang alam coba kau uraikan
Setiap perjalanan hidup adalah pilihan

Hentakan kakimu tak berbatas
Tujuan arahmu kau kantongi sendiri
Padang ataukah gunung membendung
Tetap jalanmu ringan tak tersandung bimbang

Ringan jalanmu tak menanggung pelana
Yang himpit hati yang kian sempit
Tanpa terhela kau kemudikan hidupmu
Asa membumbung disetiap jejak terukir

Larilah seperti kawanan kuda liar
Dengan begitu kau bisa memperbudak waktu
Terjang setiap jalan yang terbentang
Mutukan hidup yang hanya satu….. kali…


Maniz, 22 Juli 2008

Bantal-Bantal Doa...


Ya Allah, Tuhan yang menghujani kedamaian dalam keresahan dan membasuh kasih sayang dalam hati yang haus, ijinkanlah aku sekedar mencicipi kemurnian cinta yang Engkau hidangkan mana kala aku meringkuk dalam kesendirian, kesepian dan keterpurukan. Jangan biarkan aku menangis dalam kegaduhan dan tertawa dalam kebingungan yang menggunung.

Ketika aku sudahi tidurku pagi hari yang kulihat hanya ruang kosong dan tumpukan kertas kertas bertinta yang makin melengkapi kepenatanku dan ketika aku buka jendela kamarku, aku melihat sepasang burung yang sedang bercumbu diatas dahan rapuh tak berdaun. Mereka saling merayu dan melemparkan kicau-kicauan indah hingga merekapun terbang bekejaran diatas awan.

Aku iri padanya…
Aku ingin seperti mereka…
Ya Rabbi…
Ya Illahi..

Tiuplah pada hatiku nafas-nafas cinta yang mampu menghapuskan kesesakan dan penatnya kekosongan hingga akupun dapat merasakan nyamannya terlelap dalam belaian insan yang mencintaiku…

Ya Allah Tuhan yang menguasai istana cinta dalam hati yang menggigil.. Lelapkan aku dalam bantal-bantal cinta yang bersulam kedamaian dan ketentraman serta hiasilah mimpiku dalam madu-madu legit yang aku petik dari taman sorgaMu…

Wahai raja penyatu hati-hati berserak pertemukanlah raga ini dengan sosok insan yang sudi menerima segala keterbatasan ini serta mampu menghiasi sorga mungil yang kudiami sebelum sorga sebelumnya dan abadikanlah pertautan kami sampai memutih seluruh rambut kami, sampai menumpul kedua pandangan mata kami bahkan sampai kami tak mampu melihat fajarMu .. diwaktu Dhuha…

Amin…

Tak Apa...


Tak apalah jika kau tertawa
namun rejamkan onak dalam dada

Tak apalah jika kau menangis
hanya demi ibaku yang kau iris

Tak apalah jika kau bungkam
demi dustamu yang kau pendam

Tak apalah jika kau bahagia
walau laraku mengamininya

Tak apalah jika kau pergi
karena asamu tak disini

Tak apa..
Sungguh tak apa....

Karena masa akan berbicara…

Maniz, 21 Juli 2008

Memuja Malam


Malam ini begitu sunyi... hanya sang kodok yang terus menyindirku dengan tembangkan kidung kerinduan pada rintik hujan. Cahaya remang kukuhkanku pada kegelapan yang lamat-lamat menjadi teman tanpa perkenalan.... Aku mematung sendiri menatap kerlip bintang didepan teras rumah dengan kepala terkalung beban... Ada kegalauan yang maha dasyat menyayatku... Ada kepedihan merobek ketegaranku... dan kerapuhan menguningkan hijaunya daun asaku... Kutarik nafas dalam-dalam... kuharap beban ini kan keluar dari rongga dadaku yang kian berdesakan.. namun semua seperti terkecat di leherku bahkan membentuk terminal pertahanan disana...

Sudah cukup lama aku seperti ini... menantimu dibatas malam tanpa bintang.. menunggumu tanpa jemu menjamu.... merindumu ditiap denting waktu yang berpacu... entah sampai kapan.... bahkan 7 purnama yang kau janjikan padaku di bulan Juni tahun lalu telah meninggalakan jejak tak berbekas... dan cawan kesetiaan dialtar ketulusan hatikupun tak kau balas..

Dahulu dibatas senja kau berjaji padaku akan kembali ke peraduan kampung ini, dimana selalu kan kau rindukan.. sapuan angin semilir mengelusmu... nyanyian nyiur menentramkanmu dan eksotica sunset pantai cinta kita membuaimu...dalam…….
Namun semua janjimu tak mampu kurengkuh.. bagai busa yang dulu selalu indahkan segelas cerita cinta kita.. kini hilang tak sisakan jejak untukku….

Kugenggam erat-erat surat terakhirmu setahun lalu yang berjanji datang untuk bersanding denganku.. selamanya… kini cerita itu hanyalah angin yang berhembus.. beri ku kesegaran kala diri haus dalam jiwa yang tandus namun manakala realita telah berbicara aku tersedak dibuatnya…

Malam membungkam... namun hatiku gaduh menari dengan galau. Apakah aku harus bertahan atau beranjak pergi..??? jawaban demi jawaban bergema dari satu bilik ke bilik yang lain.. saling menindih..dan mencibir. Aneh memang... terkadang kita susah sekali berkompromi dengan diri sendiri.. merasa asing walau satu hunian.. satu jasad...
Ah sudahah… malampun telah bosan mendengar kesahku… sudah saatnya kuberanjak pergi.. karena Sang mentari masih bersedia menyapaku dipagi hari….
Kenapa aku hanya selalu memuja malam…….???


Maniz, 21 Juli 2008